Kamis, 01 Januari 2009

Museum Sejarah, Bagian Penting sebuah kota

MUSEUM SEJARAH, BAGIAN PENTING SEBUAH KOTA
Oleh : Dr. Iwan Hermawan, M.Pd.

Pendahuluan
Ketika kita bertanya bagaimana Bandung dulu, tentu jawaban yang diberikan selalu diawali dengan konon atau katanya. Jawaban seperti ini jelas bukan jawaban yang tepat bagi generasi muda saat ini yang sudah berpikir kritis. Akibatnya, orang menjadi tidak tahu bagaimana sejarah kota ini dimulai dan berjalan dari masa ke masa dan kenyataan ini tidak hanya terjadi pada orang yang baru menginjakkan kaki di kota Bandung, melainkan juga pada mereka yang lahir dan besar di kota ini.
Kenangan indah dan pahit masa lalu kota Bandung hanya menjadi konsumsi orang tua kita yang mengalaminya, sedang anak-anak sekarang hanya kebingungan dibuatnya dan tidak sedikit di antara mereka yang menganggap cerita orang tua hanyalah sebagai dongeng belaka karena tidak ada bukti yang bisa memperkuatnya. Padahal, perjalanan kota ini sudah sangat panjang dan semuanya diisi dengan keindahan serta kegetiran para pelaku sejarah di dalamnya. Akibatnya, generasi muda saat ini menjadi kurang perduli dan bangga akan kotanya, mereka menganggap kotanya tidak mempunyai sesuatu yang perlu dibanggakan, karena tidak ada sesuatu yang dapat membuktikan kota ini mempunyai perjalanan panjang yang penuh dengan keindahan dan kepahitan.
Kenyataan tersebut terjadi sebagai akibat dari minimnya informasi yang diterima oleh generasi muda tentang kota Bandung. Buku-buku yang memberikan informasi tentang bagaimana perjalanan kota ini sulit diperoleh, karena kalau pun ada sudah menjadi barang langka yang tidak mudah diperoleh di pasaran. Selain itu, tidak adanya Museum yang khusus menampilkan materi perjalanan kota Bandung juga menjadi penyebab minimnya informasi yang diperoleh generasi muda tentang kota ini.

Perjalanan sejarah Bandung
Catatan sejarah kota Bandung dimulai sekitar pertengahan abad ke 17, tepatnya tahun 1641, yaitu ketika seorang mata-mata Kompeni, Juliaen de Silva menulis laporannya. Kemudian, baru pada tahun 1712 ekspedisi untuk mencari sumber bahan baku dan lahan untuk perkebunan kopi membawa Abraham Van Riebeek menginjakkan kakinya di dataran Bandung, dan baru pada tahun 1741 Belanda menempatkan seorang tentaranya, yaitu Kopral Arie Top. Tetapi perkembangan pesat dataran Bandung menjadi sebuah kota dimulai ketika ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak ke pusat kota Bandung sekarang.
Pada tahun1786 jalan setapak yang bisa dilewati kuda mulai menghubungkan Batavia dengan Bandung melalui Bogor dan Cianjur dan pada saat Gubernur Jenderal Daendels berkuasa pada tahun 1810, jalan setapak tersebut diubah menjadi jalan raya yang merupakan bagian dari Jalan Raya Pos Anyer - Panarukan. Setelah jalan raya selesai, Gubernur Jenderal melalui surat tanggal 25 Mei 1810 memerintahkan kepada Bupati Bandung untuk pindah dari ibu kabupaten lama, di Krapyak, ke tepi jalan raya pos.
Setelah menemukan tempat yang tepatuntuk pusat pemerintahan kabupaten yang sesuai dengan harapan, maka pada tanggal 25 September 1810, Bupati Bandung saat itu, Wiranatakusumah II, secara resmi memindahkan ibu kota Kabupaten dari Krapyak ke tempat baru di tepian Jalan Raya Pos, yaitu sekitar Alun-alun Bandung sekarang. Kepindahan ibukota Kabupaten menjadi tonggak tonggak bersejarah bagi perkembangan kota Bandung selanjutnya, karena sejak saat itu perkembangan Bandung yang dulunya hanya berupa “kampung” menuju sebuah kota yang maju dimulai.
Posisi kota Bnadung yang strategis serta perkebangan kota yang pesat, pada tahun 1856 ibukota karesidenan Priangan dipindahkan dari Cianjur ke kota Bandung. Karena pertumbuhan penduduk kota Bandung yang terus meningkat serta pertumbuhan kota yang pesat, pada tahun 1906 kota Bandung resmi menjadi kota dengan pemerintahan Gementee (kotamadya) yang dipimpin oleh seorang Walikota.
Setelah menjadi Gementee, kemjuan kota Bandung dalam berbagai hal semakin nampak. Demi keindahan dan kesejukan kota di berbagai sudut kota dibangun taman-taman yang indah dan lapangan terbuka hijau tempat bermain anak-anak selain pembangunan infrastruktur pendukung ekonomi masyarakat.
Karena kelebihan potensi alamiah yang dimiliki Bandung, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal JP. Graaf (1916-1921) muncul gagasan untuk memindahkan ibukota Hidia Belanda dari Batavia ke Bandung. Gagasan tersebut muncul sebagai usulan dari HF. Rillema, seorang ahli kesehatan Belanda, yang melakukan penelitian tentang kesehatan kota-kota pesisir.
Ide pemindahan ibukota negara tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, dan mulailah pembangunan berbagai infrastruktur pemerintahan di kota ini, salah satunya adalah Gedung Sate. Pemindahan berbagai kantor pusat dari Batavia ke Bandung mulai dilakukan, diantara pemindahan Departemen Peperangan (Depatement van Oorlog/DVO) yang secara resmi dilaksanakan pada tahun 1920, menyusul pemindahan pabrik senjata (Artillerie Contructie Winkel/ACW) dari Surabaya yang diririntis sejak rahun 1898 dan resmi pindah pada tahun 1920.
Selain dibangun pusat pemerintahan, berbagai sarana pendidikan dibangun untuk melengkapi sarana yang telah ada. Pada 16 Mei 1929 diresmikan Museum Geologi, kemudian pada tahun 1931 juga diresmikan Museum PTT (Museum Pos Indonesia, sekarang) sebagai pelengkap kantor pusat jawatan PTT (Post, Telegraaf & Telefoon). Selain itu didirikan pula perpustakaan-perpustakaan dengan koleksi yang representatif bagi perkembangan pendidikan di Bandung masa itu.
Setelah sebagian besar pusat pemerintahan migrasi dari Batavia ke Bandung dan hanya tinggal Departemen Dalam Negeri, Departemen Pendidikan dan pengajaran, Volksraad serta Gubernur Jenderal, pada tahun 1930-an Belanda dilanda krisis ekonomi cukup berat dan berkepanjangan yang berakibat pada penundaan Bandung sebagai ibu kota negara. Lambat laun rencana tersebut akhirnya pupus seiring dengan konsentrasi Belanda terhadap serangan Jepang dan sirna untuk selamanya setelah Jepang masuk dan menguasai Indonesia, termasuk Bandung pada tahun 1942. Akhirnya Bandung pun hanya menjadi ibukota karesidenan Priangan dan Jawa Barat setelah masa kemerdekaan.
Selama tiga tahun setengah Jepang menduduki Indonesia, keadaan kota Bandung tidak banyak mengalami perubahan dalam tata kotanya, pembangunan di Bandung seolah tidak terjadi. Pembangunan di Bandung baru menggeliat klembali setelah Indonesia merdeka. Berbagai kegiatan yang sifatnya nasional bahkan internasional dilakukan di kota ini, diantaranya kegiatan Konperensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang melahirkan Dasa Sila Bandung.

Museum Perjalanan Bandung
Perjalanan panjang kota Bandung dengan berbagai peristiwa yang mengirinya serta keindahan alamnya telah menjadi kenangan yang terus melekat pada orang-orang yang merasakannya. Oma-opa serta kakek-nenek kita yang pernah mengalami jaman keemasan Bandung selalu mengenangnya dalam berbagai kisah nostalgia yang diceritakan kepada cucu-cucunya. Tetapi sayang, apa yang diceritakan oleh opa-oma atau nenek-kakek kita tidak dapat dibuktikan oleh cucu-cucunya yang lahir belakangan yang tidak merasakan keindahan dan ketenaran kota ini. Berbagai bukti peninggalan sejarah telah hilang entah kemana, banyak taman yang telah tergusur demi pembangunan gedung perkantoran atau perdagangan bahkan perumahan, semikian pula halnya gedung-gedung tua telah bersalin wujud menjadi gedung-gedung berarsitektur modern guna memenuhi kebutuhan berbagai aktifitas warga kota yang dari hari ke hari semakin berjibun jumlahnya.
Minimnya bukti sejarah yang tersisa serta kurangnya pengenalan sejarah kota kepada generasi muda mengakibatkan banyak orang muda di Bandung tidak lagi mengenal bagaimana perjalanan hidup kotanya dari masa ke masa. Kenyataan ini menurut para ahli akan memudarkan semangat nasionalisme dan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar dimana dia tinggal dan menetap, padahal rasa cinta dan kepedulian terhadap daerahnya merupakan modal bagi pembangunan daerah terutama di era otonomi daerah saat ini.
Salah satu upaya untuk menumbuhkan kembali rasa kepedulian generasi muda terhadap tempat tinggalnya, adalah melalui pendirian Museum Sejarah Bandung. Timbul pertanyaan mengapa harus Museum ?, karena Museum sebagai lembaga yang menyimpan, merawat dan memamerkan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah bagi ummat manusia berkenaan dengan kehidupan dan lingkungannya akan mampu memberikan pengenalan akan berbagai peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kota ini.
Semua aspek sejarah perkembangan kota Bandung, dari mulai Bandung mulai dikenal oleh dunia luar, kemudian pembabakan oleh para perintis, selanjutnya berbagai kegiatan pembangunan kota yang terjadi di awal-awal pembentukannya yang melibatkan berbagai komponen masyarakat, baik para sinyo-sinyo Belanda maupun para pribumi, yang telah mengangkat Bandung ke pentas nasional bahkan internasional sampai kepada perkembangan kota ke arah Metropolitan yang penuh dengan keramaian aktivitas sebuah kota yang tidak pernah tidur walau sekejap.
Melalui pendirian Museum Sejarah Bandung diharapkan kenangan indah masa lalu di saat jaman jayanya kota Bandung yang selalu dikenang oleh opa-oma serta kakek-nenek bahkan buyut kita tidak hanya menjadi milik mereka, tetapi dapat juga dinikmati dan dipelajari oleh generasi muda. Pada akhirnya setelah mengenal Bandung secara lebih mendalam diharapkan mereka dapat belajar dari perjuangan serta upaya para pendiri dan pengelola kota di awal pertumbuhan Bandung yang kemudian diharapkan tumbuh rasa cinta dan bangga akan kota dimana mereka lahir dan tumbuh dewasa. Setelah rasa cinta dan bangga muncul diharapkan pada diri mereka tumbuh rasa peduli terhadap perkembangan pembangunan kota ini dan berupaya untuk turut aktif dalam menggerakkan roda pembangunan melalui berbagai upaya positif bagi pembangunan kota.

Bandung : dulu, kini, dan masa depan


Oleh : Dr. Iwan Hermawan, M.Pd.

Tidak terasa kota Bandung saat ini berusia 194 tahun, suatu usia yang tidak muda lagi bagi sebuah kota. Kemajuan di berbagai bidang kehidupan dari hari ke hari semakin nampak dan menjadi salah satu barometer kemajuan di negeri ini. Beragam peristiwa sedih, senang, tragis bahkan membanggakan terjadi silih berganti menghiasi lembaran sejarah perjalanan kota yang berjuluk “Parjs van Java”.
Sebagai salah satu kota di Nusantara, kota Bandung sejak dulu sudah dikenal dan menjadi kebanggan bagi banyak orang tidak hanya warga kota tetapi juga orang-orang yang pernah datang dan berkunjung ke kota ini. Mereka semua bangga menjadi bagian dari warga kota atau orang yang pernah mengunjungi kota ini.
Sebelum pembangunan jalan raya Pos pada jaman pemerintahan gubernur jenderal Daendels (1808-1811), Bandung hanyalah sebuah kampung kecil di tengah belantara hutan tropis yang dikenal dengan sebutan Tatar Ukur. Titik tolak pembangunan Bandung baru dimulai pada tahun 1810 setelah Daendels mengeluarkan Surat Perintah untuk memindahkan ibukota Kabupaten Bandung yang berada di Krapyak (+ 11 km selatan jalan raya pos) ke tepi jalan raya pos (Grote Postweg). Pemindahan Ibu kota kabupaten tersebut telah menjadikan wajah tatar ukur berubah secara drastis menjadi sebuah kota yang ramai dan terkenal di penjuru nusantara.
Pembangunan di berbagai bidang kehidupan telah merubah sebuah keberadaan sebuah kampung kecil di tengah hutan yang penuh dengan rawa menjadi sebuah negeri impian para pengadu nasib. Mereka tidak hanya datang dari daerah sekitar, melainkan juga datang dari berbagai penjuru nusantara. Semuanya berupaya ingin menjadi bagian dari kemilaunya kota impian.

Bandung Tempo Dulu
Pada awal pendiriannya, Bandung atau Tatar Ukur dibangun sebagai pusat pemerintahan kabupaten Bandung sebagai bentuk perealisasian perintah Gubernur Jenderal Belanda saat itu, HW. Daendels, yang memerintahkan ibukota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak ke daerah yang dilewati jalan raya Pos.
Pertumbuhan kota Bandung semakin pesat, hal ini ditandai dengan didirikannya berbagai infrastruktur pendukung sebuah kota. Semakin lengkapnya infrastruktur kota dan keadaan lingkungan yang memadai menjadikan kota ini dipilih menjadi ibukota karesidenan Priangan pada tahun 1856 menggantikan Cianjur yang realisasi pemindahannya secara resmi baru dilakukan pada tahun 1864.
Setelah ibukota karesidenan pindah dari Cianjur ke Bandung, pada tanggal 1 April 1906 kota Bandung kembali ditingkatkan statusnya menjadi sebuah kota praja (Gemeente) yang dipimpin oleh seorang Walikota. Penetapan ini dilakukan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal JB Van Heitz melalui ordonansi tertanggal 21 Februari 1906. Duapuluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1926, status kota Bandung kembali meningkat menjadi Stadsgemeente (pemerintahan kota besar).
Hasil penelitian HF. Tillema, seorang ahli kesehatan lingkungan dari Semarang pada tahun 1916, menunjukkan lingkungan Batavia (Jakarta) sudah tidak cocok lagi sebagai pusat pemerintahan dan disarankan untuk segera pindah ke kota yang mempunyai lingkungan mendukung. Hasil penelitian tersebut menunjukkan kota Bandung sebagai kota yang cocok sebagai pusat pemerintahan baru menggantikan Batavia. Wacana tersebut segera mendapat dukungan dari berbagai pihak dan mulai direalisasikan, yaitu melalui pembangunan berbagai fasilitas pendukung, terutama gedung-gedung perkantoran pemerintah dan swasta. Namun sayang, akibat terjadinya krisis perekonomian di negeri Belanda yang juga berpengaruh kepada daerah jajahannya pada tahun 1930-an maka rencana pemindahan ibukota Hindia Belanda menjadi tertunda dan pada akhirnya tidak jadi dilaksanakan karena pemerintahan kerajaan Belanda harus menyerahkan tanah jajahannya kepada Jepang. Pada akhirnya hingga sampai saat ini Bandung hanya menjadi Ibukota Provinsi Jawa Barat.
Tidak hanya infrastruktur kota yang dibangun, pendidikan menjadi pusat perhatian pemerintahan Bandung. Sejak pertengahan abad ke 19 di kota Bandung telah didirikan berbagai pendidikan modern dan pada awal abad ke 20 keberadaan kota Bandung sebagai kota Pendidikan semakin kuat dengan didirikannya Technische Hogesschool (TH) pada tahun 1920. Selain itu untuk meningkatkan pendidikan kaum perempuan, Raden Dewi Sartika merintis pendirian sekolah khusus perempuan yang diberi nama Sakola Kautamaan Istri dengan pelajaran yang diajarkan lebih terfokus pada keterampilan kaum perempuan.
Keindahan kota Bandung tidak hanya ditampilkan melalui gedung-gedung dengan arsitektur menawan tetapi juga dengan keberadaan taman dan ruang terbuka hijau yang tertata dengan apik di berbagai sudut kota. Pemberian label pada setiap tumbuhan yang ditanam di setiap taman dan ruang terbuka hijau telah menjadikan taman sebagai tempat belajar disamping sebagai tempat rekreasi, karena melalui label tersebut warga dapat belajar tentang banyak hal yang berkaitan dengan tanaman. Demikian pula halnya dengan para guru, mereka dengan mudah mengenalkan jenis-jenis tumbuhan yang berada di lingkungan dengan cara mengajak mereka belajar sambil berwisata di taman kota.

Bandung Sekarang
Tidak berbeda jauh dengan tempo dulu, Bandung saat ini merupakan salah satu kota di Indonesia yang menjadi idaman para migran. Beribu orang tiap tahunnya datang dari berbagai penjuru negeri untuk mengadu nasib di kota ini, akibatnya jumlah penduduk Bandung dari hari ke hari semakin meningkat dengan pesat dan terus berkembang melebihi jumlah ideal penduduk sebuah kota. Bandung menjadi kota yang berpenduduk terpadat di Indonesia bahkan di dunia. Bandung menjadi kota yang heurin ku tangtung dan Hese usik-usik acan, bahkan ada sebagian orang yang mengatakan di Bandung hese hitut-hitut acan.
Terus meningkatnya jumlah penduduk kota menyebabkan gagasan para pendahulu untuk membangun Bandung dengan konsep kota taman (Tuisnstad) yang digagas oleh Ir. Thomas Karsten saat ini menjadi hancur berantakan dan tidak mungkin untuk diwujudkan kembali sebagaimana awal pembangunan kota. Keberadaan taman kota yang indah dan kawasan terbuka hijau tempat bermain anak-anak serta orang dewasa sebagian telah beralih fungsi menjadi berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan warga kota.
Selain kawasan terbuka hijau yang dirambah, bangunan-bangunan tua dan berbagai monumen yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah kota Bandung juga turut digusur diganti dengan bangunan baru yang kaku sebagai wujud kota modern. Akibatnya, banyak warga kota tidak mengenal bagaimana wujud kota ini dahulu, bahkan mereka, terutama generasi muda, tidak percaya bahwa dari Bandung pernah memperoleh penghargaan sebagai model kota kolonial (Kolonialstad) disamping kota Hiderabad di India. Kenyataan ini terjadi sebagai akibat dari hilangnya bangunan-bangunan tua di kota Bandung dan berganti dengan bangunan baru.
Jumlah penduduk Bandung yang telah melewati ambang jumlah ideal sebuah kota berpengaruh pula pada jumlah kendaraan yang melanju tiap hari menyusuri jalanan kota. Dari waktu ke waktu jumlah kendaraan terus meningkat dan hal ini tidak didukung dengan kondisi jalan di kota Bandung yang tidak lebar dan banyak persimpangan, akibatnya kemacetan menjadi hal yang biasa bahkan telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan warga kota Bandung sehingga muncul pemeo di tengah masyarakat, “kalau tidak macet bukan Bandung”. Selain itu, hak pejalan kaki untuk bisa menyusuri jalanan juga banyak yang tersita, trotoar banyak yang dipersempit bahkan dihilangkan demi kepentingan pelebaran jalan serta tidak sedikit trotoar yang beralih fungsi menjadi kios-kios pedagang kaki lima.

Bandung di Masa depan
Pada awal pertumbuhannya, sejarah telah membuktikan aparat pengelola kota melalui kerja nyata dan dukungan penuh dari warganya telah mampu mengaktualkan motto Ex Undis Sol (Matahari Bersinar diatas Gelombang) dalam bentuk berbagai prestasi dan penghargaan yang diraih serta sanjungan yang diperoleh dari banyak kalangan yang mampu membuat bangga tidak hanya penduduk kota semata, melainkan juga orang-orang yang pernah datang mengunjungi kota Bandung. Berbagai sanjungan dan julukan diperoleh kota ini seperti Parijs van Java, The Garden of Allah, kota Kembang dan berbagai kata pujian serta sanjungan lainnya yang membuat bangga penghuninya hingga saat ini.
Bagi kemerdekaan Indonesia, kota Bandung mempunyai peranan yang sangat penting, karena berbagai peristiwa yang memperlihatkan jiwa nasionalisme bangsa Indonesia diperlihatkan di kota ini. Tokoh-tokoh besar seperti Ir. Sukarno, Ki Hajar Dewantara, Ir. Juanda, Dr. Setyabudi dan banyak pejuang lainnya memulai karir politiknya di kota ini. Sehingga tidak keliru jika banyak orang yang menjuluki Bandung sebagai kota perjuangan.
Saat ini ketika kota Bandung berulang tahun ke 194, Bandung bukan lagi sebuah kampung kecil di tengah belantara di kaki Tangkubanparahu atau sebuah kota kolonial dengan taman-tamannya yang indah dan bangunannya yang berdiri megah, melainkan sebuah salah satu kota besar dengan penduduk terpadat di Indonesia bahkan menjadi salah satu kota terpadat di dunia. Perkembangan kota yang terus terjadi ke berbagai arah menjadikan kota ini sebagai salah satu metropolitan baru di negeri ini yang jika tidak direncanakan dengan baiik dan dikelola secara maksimal bukan tidak mustahil akan menjadi sebuah kota yang semrawut dan paling tidak karuan. Hal ini disebabkan beban yang harus dipikul kota Bandung akan semakin berat seiring dengan terus meningkatnya jumlah penduduk kota.
“Hari ini ada setelah melewati kemarin, dan esok akan datang jika melalui hari ini”. Ungkapan ini menunjukkan untuk mempersiapkan Bandung yang lebih di masa yang akan datang kita harus memulainya dari hari ini dan kita juga harus belajar dari masa lalu agar tidak jatuh kedua kalinya di lubang yang sama. Keindahan Bandung masa lalu yang sering diceritakan dan dibanggakan orang tua kita bukan hanya menjadi buaian dan pelipur belaka, tetapi justru harus mampu menjadi inspirasi bagi bagi kita dalam mempersiapkan hari esok yang lebih baik dan mengembalikan kejayaan masa lalu di masa sekarang dan masa yang akan datang.
Semua upaya membangun Bandung ke arah yang lebih baik akan tercapai jika semua langkah nyata dilakukan dengan kesadaran semua pihak dan dilaksanakan secara maksimal, bukan hanya demi keuntungan proyek atau sekedar retorika dan lips service semata. Semoga melalui berbagai upaya tersebut, Bandung yang bermartabat dapat diwujudkan dalam realita kehidupan bukan sekedar ide belaka.