Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2009

PEREMPUAN JADI OBJEK ATAU MENGOBJEKKAN DIRI ?

Oleh : Iwan Hermawan

“Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita pahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan” (Kahlil Gibran, Sayap-sayap Patah).
Potongan tulisan Kahlil Gibran di atas menunjukkan, perempuan merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang mempunyai daya tarik memikat serta penuh dengan misteri bagi lawan jenisnya. Keindahan tubuh dan rohaninya merupakan bagian yang mampu menarik hati dan menggoda iman kaum lelaki. Sehingga tidak heran jika kaum lelaki akan rela mengorbankan apa saja agar mampu menikmati dan memiliki keindahan tubuh seorang perempuan.
Perjalanan sejarah menunjukkan, pembunuhan yang dilakukan oleh manusia pertama kali di muka bumi, yaitu pembunuhan Habil oleh Qabil, terjadi sebagai akibat rebutan perempuan. Selain itu, kisah dalam kitab suci menjelaskan nabi Adam yang diusir oleh Tuhan dari Surga juga disebabkan oleh perempuan (siti Hawa) yang mendesaknya untuk mendekati dan memakan buah terlarang (Khuldi). Pada jaman Fir’aun, nabi Musa yang saat itu masih bayi seharusnya dibunuh karena merupakan keturunan bani Israil tetapi tidak jadi dibunuh bahkan diangkat anak olehnya karena permintaan dari sang permaysuri. Pada zaman Cleopatra, Julius Caesar rela tidak melanjutkan ekspansinya di Mesir karena jatuh pada pelukan ratu Mesir yang terkenal karena kecantikannya. Selanjutnya, presiden Amerika Serikat John F Kennedi dapat takluk dan jatuh ke pelukan artis Marlyn Monroe, dan terakhir ketika presiden Bill Clinton posisinya terancam karena ada main dengan Monica Lewinsky.
Tidak semua perempuan hanya menjadi objek dalam kehidupan dunia, diantara mereka terdapat beberapa nama yang justru menjadi pembangkit semangat bagi orang yang mencintainya, seperti halnya Eva Duarte yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Eva Peron merupakan orang di belakang layar keberhasilan Juan Peron dalam membangun negerinya, walaupun hal itu juga merupakan bagian dari ambisinya untuk menjadi orang terkenal di Argentina dan itu tercapai hingga namanya lebih dikenang oleh warga Argentina dibanding sang suami yang justru orang nomor satu di negeri itu.
Kenyataan tersebut menunjukkan dari dulu hingga sekarang kaum laki-laki akan selalu berupaya untuk dapat meraih simpati perempuan tanpa berpikir dampak dan akibat yang akan ditanggungnya.

Pemanfaatan Perempuan
Melihat perjalanan panjang sejarah hubungan antara laki-laki dengan perempuan, tidak heran jika banyak orang kemudian “memanfaatkan” keindahan yang dimiliki perempuan guna mencapai suatu obsesi, baik harta kekayaan, ketenaran atau jabatan. Pada jaman dahulu, agar lurah terpakai oleh bupati, maka dia secara rutin harus mempersembahkan seorang perempuan yang cantik kepada bupati untuk dijadikan selir atau hanya sekedar pemuas nafsu sesaat untuk kemudian dibebaskan kembali atau dihadiahkan lagi kepada orang lain. Akibatnya, banyak orang tua, terutama dari golongan bawah, yang merasa bahagia jika mempuanyai anak perempuan yang cantik dan rupawan, karena kecantikan yang dimilikinya dapat menjadi modal untuk meningkatkan taraf kehidupan ekonomi dan status keluarga.
Di dunia modern saat ini, kedudukan perempuan tidaklah jauh berbeda dengan sebelumnya, mereka tetap dijadikan sebagai “hiasan” penarik laba. Bila kita perhatikan Mode pakaian perempuan yang berkembang saat ini, dari hari ke hari semakin ketat melekat di tubuh dan semakin minim serta semakin bebas memperlihatkan keindahan tubuh pemakainya, bahkan pakaian mode untuk pakaian seragam kantor pun dibuat seseksi dan seminim mungkin agar mereka bisa memperlihatkan memperlihatkan bagian-bagian yang menjadi daya tarik bagi lawan jenisnya, walaupun hal itu sering kali membuat mereka risi dan tidak nyaman tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena harus menuruti apa yang telah menjadi kebijakan perusahaan atau kantor.
Tetapi tidak semua perempuan yang memanfaatkan keindahan tubuhnya karena rasa “terpaksa” atau dimanfaatkan pihak lain, diantara mereka ada seperti halnya Cleopatra dan Eva Peron yang memanfaatkan keindahan dan kecantikan tubuhnya guna meraih obsesi dan cita-cita agar menjadi orang terkenal dan sukses dalam menapaki jenjang karir. Tidak sedikit diantara mereka, terutama para pendatang baru dunia hiburan, yang dengan sengaja memanfaatkan kesintalan dan keindahan tubuhnya demi setumpuk uang dan ketenaran, bahkan tidak sedikit yang siap memberikan “service lebih” asal tujuannya menjadi orang terkenal dapat tercapai. Sehingga tidak heran jika semua media kita, terutama media cetak dan elektronik dipenuhi dengan tampilan cantik seorang perempuan yang berpakaian minim atau sangat ketat, bahkan media televisi kita saat ini sudah dipenuhi dengan tayangan yang memperlihatkan “goyangan” pantat nakal biduanita yang mampu menarik imajinasi kaum lelaki yang menontonnya.
Kenyataan tersebut jelas menunjukkan perempuan dengan kelemahan yang dimilikinya menjadi objek kaum laki-laki dalam memenuhi ambisinya. Tetapi di sisi lain, saat ini justru banyak perempuan yang memanfaatkan kelemahan laki-laki yang selalu tergoda oleh sesuatu yang indah yang dimiliki seorang perempuan guna menggapai puncak harapan.

Penghargaan terhadap Perempuan
Para penggiat persamaan hak selalu berteriak, “jangan melakukan eksploitasi perempuan guna meraih keuntungan bisnis” atau berikan porsi yang sama antara perempuan dan laki-laki”. Jargon-jargon tersebut selalu didengungkan di berbagai kesempatan yang tiada lain bertujuan agar perempuan memperoleh kedudukan yang sama dengan laki-laki.
Penghargaan terhadap seorang perempuan sebenarnya harus diperlihatkan oleh perempuan itu sendiri dalam menghormati dirinya. Mereka harus mampu menghormati dirinya melalui caranya bertindak dan berperilaku dalam upayanya menggapai tujuan dan cita-cita. Mereka harus mampu mempertahankan cara hidup yang sesuai dengan norma walau persaingan untuk ke situ sangat ketat. Karena bagaimana mungin seorang perempuan akan memperoleh penghargaan dari kaum lelaki jika dia sendiri tidak menghormati dan menghargai dirinya sendiri, seperti dalam cara berpakaian di depan umum banyak di antara mereka yang berpakaian minim dan seksi sehingga lekuk tubuhnya yang indah, seksi dan sintal jelas terlihat dengan alasan mengikuti perkembangan mode. Kebiasaan semacam ini jelas akan mengundang lelaki iseng untuk menggodanya bahkan melecehkannya baik melalui colekan tangan atau suitan bahkan kata-kata sapaan yang tidak senonoh.
Jika mereka mampu berperilaku dan berpenampilan yang seuai dengan norma yang berlaku, insyaAllah pelecehan dan kekerasan seksual yang saat ini banyak menimpa kaum perempuan dapat dihindarkan, karena pada dasarnya kejahatan dan pelecehan seksual banyak terjadi sebagai akibat dari penampilan si korbannya itu sendiri. Selain itu melalui penghargaan terhadap diri sendiri oleh kaum perempuan diharapkan posisi perempuan yang selalu menjadi objek dalam berbagai kegiatan kaum lelaki dan dunia usaha dapat dihindarkan dan penghargaan yang layak dapat diterima oleh kaum perempuan sesuai dengan prestasi bukan rasa iba atau karena pengorbanan harga diri.

DIMUAT HU. PIKIRAN RAKYAT, 21 JUNI 2003

Rabu, 31 Desember 2008

Perempuan di antara 2 sisi


PEREMPUAN DI ANTARA DUA SISI
Oleh : Iwan Hermawan, M.Pd.


Perempuan sering diidentikkan sebagai mahluk lemah dan tidak berdaya sehingga harus memperoleh perlindungan dari laki-laki, padahal dibalik kecantikan dan kelemahlembutan seorang peremuan terkandung kekuatan sangat besar yang mampu mempengaruhi laki-laki dan melalui kekuatannya itu perempuan mampu mengubah dunia.
Pengaruh daya tarik seorang perempuan terhadap seorang laki-laki dengan mudah dapat kita temukan dalam berbagai legenda dan sejarah. Sasakala Sangkuriang merupakan salah satu legenda yang memperlihatkan bagaimana kelembutan dan kecantikan seorang perempuan mampu membius seorang laki-laki yang sedang dimabuk cinta. Al kisah diceritakan, bagaimana Sangkuriang yang sangat mencintai Dayang Sumbi - yang tidak lain ibunya sendiri - bersedia memenuhi semua permintaan sang kekasih. Padahal permintaan tersebut tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusia biasa, yaitu membuat sebuah danau yang lengkap dengan perahu untuk dipakai berbulan madu dalam tempo satu malam, walau pada akhirnya usaha keras tersebut harus menemui kegagalan karena fajar telah menyingsing.
Tidak hanya dilukiskan dalam sebuah legenda, besarnya pengaruh seorang perempuan terhadap laki-laki yang mencintainya juga dicatat oleh sejarah. Julius Caesar seorang raja gagah perkasa dan dikenal sebagai sang penakluk akhirnya harus takluk dan tunduk tidak berdaya di pangkuan Ratu Cleopatra, seorang ratu cantik dari Mesir.
Bukti lain menunjukkan, Seorang Eva Duarte yang kemudian dikenal dengan nama Evita Peron mampu menjadi inspirator bagi Juan Peron dalam meraih kesuksesan memimpin Argentina, walau apa yang dilakukan Evita Peron merupakan bagian dari obsesinya dalam menggapai puncak kesuksesan dan ketenaran dalam hidup, karena upaya yang dilakukan dalam mendukung sang suami sekaligus mampu mengangkat pamor namanya hingga melebihi ketenaran dan kepopuleran sang suami yang nota bene seorang presiden. Kecintaan rakyat padanya diperlihatkan saat kematian datang menjemput, rakyat Argentina sangat berduka dan kehilangan.
Dewasa ini, pengaruh daya tarik perempuan terhadap laki-laki tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi dalam legenda atau sejarah. Seorang laki-laki akan rela mengorbankan apa saja dan mau melakukan apa saja demi merebut cinta sang pujaan hati, termasuk mengorbankan jiwanya. Tidak sedikit laki-laki yang rela melakukan perbuatan nekad demi melindungi dan memenuhi apa yang diinginkan oleh pasangannya. Semua itu dilakukan agar mereka dianggap orang yang jantan dan bertanggung jawab.
Di sisi lain, perjalanan hidup seorang perempuan dalam menggapai asa dan cita tidak selalu berjalan dengan mulus hingga di ujung pengharapan, karena banyak di antara perempuan harus rela meninggalkan obsesi dan cita-cita setelah mereka menikah. Banyak diantaranya dengan alasan pengabdian rela hanya menjadi penghias rumah dan media pemuas nafsu. Mereka sering kali tidak bisa berbuat banyak dalam menentukan jalannya kehidupan rumah tangga, karena mereka hanya mampu menerima tanpa mampu berperan aktif.

Diantara dua jalan
Obsesi sesorang perempuan dari dahulu hingga sekarang tidaklah berubah, yaitu menggapai puncak kesuksesan dan ketenaran dalam segala bidang kehidupan. Untuk menggapainya tidak sedikit di antaranya yang menghalalkan segala cara, karena yang ada dalam benaknya hanyalah kesuksesan dan ketenaran.
Perjalanan panjang manusia menunjukkan, kaum laki-laki akan dengan mudah tertarik kepada keindahan tubuh seorang perempuan. Mereka akan berupaya dengan berbagai cara agar dapat memiliki dan menikmatinya, karena dengan cara demikian dia dapat memperlihatkan keperkasaan dan kegagahannya. Melihat kondisi seperti ini, tidak heran jika dari dulu sampai sekarang banyak perempuan yang menjual kecantikan dan kemolekan tubuhnya guna meraih impian dan harapan. Mereka rela berpakaian super minim di depan kamera atau berlenggak lenggok erotis di atas panggung agar cita-citanya menjadi orang terkenal dan secara materi berlebih dapat tercapai.
Selain memanfaatkan kecantikan dan kemolekan tubuh untuk mencapai obsesi, tidak sedikit perempuan dimanfaatkan untuk menggapai cita-cita dan obsesi orang lain, baik orang tua maupun pejabat.
Pada jaman dahulu, para lurah dalam kurun waktu tertentu selalu mencari “bibit unggul” di desanya untuk dijadikan sebagai persembahan kepada bupati, demikian pula halnya dengan bupati dia akan mencari bintang kabupaten untuk dijadikan persembahan kepada sang raja. Hal ini dilakukan sebagai bukti kesetiaan kepada atasan dengan tujuan agar jabatannya tidak dicopot. Demikian pula halnya dengan pihak orang tua, terutama dari kalangan rakyat jelata, mereka akan sangat bahagia jika mempunyai anak perempuan yang cantik rupawan, karena kecantikan anaknya dapat dijadikan modal untuk mengangkat harkat, martabat, dan derajat sosial orang tuanya yang pada akhirnya dapat dijadikan sandaran kehidupan di hari tua sambil menunggu ajal menjemput.
Banyak orang tua berharap anak perempuannya dapat terpilih oleh penguasa untuk dijadikan istri atau minimal istri simpanan. Kalau pun tidak terpilih oleh penguasa mereka selalu berharap anak perempuannya dapat bersanding dengan saudagar atau tuan tanah walau hanya sekedar sebagai istri piaraan. Dan jika sudah menjadi keputusan orang tua, dia tidak bisa menolak walau dia telah menjalin cinta kasih dengan yang lain, karena seorang anak harus berbakti dan menurut pada orang tua.
Dewasa ini, Pemanfaatan perempuan cantik sebagai pelancar jalan dalam menggapai tujuan juga terus terjadi dan mungkin tidak akan berhenti hingga dunia kiamat. Banyak perusahaan terutama yang bergerak di bidang pelayanan dan retail memanfaatkan perempuan muda nan cantik jelita dengan pakaian kerja yang cukup “simpel” dari segi bahan dan ukuran sebagai ujung tombak pemasaran produknya. Selain itu, pada tingkatan yang lebih tinggi banyak deal-deal bisnis dilakukan dengan pelicin berupa perempuan cantik yang dapat memberikan pelayanan all out.
Selain itu, guna meningkatkan penjualan produk, banyak perusahaan yang memanfaatkan perempuan cantik dan penampilan yang menantang sebagai bintang iklan produknya. Tidak ketinggalan para pemilik stasiun TV seolah berlomba tidak mau kalah memanfaatkan kesintalan dan keseksian perempuan cantik yang bergoyang erotis menghiasi tayangannya. Kondisi serupa juga tampak pada media cetak, banyak media cetak yang berlomba mengangkat tirasnya dengan cara menampilkan foto-foto perempuan cantik berbusana swim sweat dengan gaya erotis dan senyum menggoda.
Dalam banyak kasus seperti di atas, banyak perempuan tidak bisa berbuat banyak, mereka harus menerima apa yang menimpa dirinya sembari menahan rasa sakit hati dan perasaan dilecehkan. Mereka tidak bisa berbuat banyak, karena mereka tidak punya kuasa sedangkan tuntutan hidup yang dipikulnya cukup berat serta persaingan dalam memperoleh kesempatan sangat ketat.
Apa yang terjadi di atas tidak semua atas dasar keterpaksaan, karena banyak di antara mereka yang justru memanfaatkan kecantikan, kesintalan dan keseksian tubuh yang dimilikinya sebagai modal untuk memperoleh harta, tahta dan ketenaran. Banyak para artis perempuan, terutama pendatang baru, yang mengaku siap untuk beraksi di depan kamera dengan pakaian apapun termasuk harus berpakaian super mini bahkan polos serta berfose menggoda sekalipun demi sebuah ketenaran. Selain itu, banyak perempuan eksekutif muda yang siap menjadi tim lobby “all out” bagi perusahaan di mana dia bekerja demi sebuah kedudukan yang lebih baik dan pendapatan yang tinggi.

Menghormati dan dihormati
Sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan, perempuan bukanlah budak nafsu laki-laki tetapi harus diposisikan sebagai mitra kaum laki-laki dalam menggapai tujuan hidup. Lenin, salah seorang tokoh komunis Rusia mengatakan “Jikalau tidak dengan mereka (perempuan), tidak mungkin kita mencapai kemenangan”. Ungkapan ini menunjukkan perempuan mempunyai posisi yang tidak kalah pentingnya dengan laki-laki, sehingga keberadaan mereka jangan sampai dilupakan atau hanya sebagai pelengkap belaka.
Tuntutan persamaan hak dan kedudukan antara perempuan dengan laki-laki terus bergema di mana-mana. Kaum perempuan selalu menuntut agar dirinya tidak dilecehkan dalam segala hal termasuk dalam berekspresi, karena mereka mempunyai hak yang sama dan keberadaannya bukan untuk memperoleh perlakuan yang tidak adil.
Untuk menggapai semua yang menjdi tuntutan kaum perempuan sebenarnya ada pada diri perempuan itu sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, karena walau pun mereka menuntut untuk tidak menjadi bahan pelecehan semua itu tidak mungkin tercapai jika mereka sendiri tidak mampu menghargai dirinya sendiri dan mereka tidak mau memperlihatkan keunggulan apa yang dimilikinya. Karena, laki-laki tidak akan berani membuat suatu pelecehan jika perempuan itu tidak “mengundang”. Banyaknya kasus pelecehan seksual bahkan perkosaan terhadap seorang perempuan yang terjadi sebagian besar diakibatkan penampilan perempuan itu sendiri yang mengundang laki-laki berbuat demikian.
Pada akhirnya melalui penghargaan terhadap diri sendiri serta kemampuan yang dimilikinya, diharapkan perempuan tidak hanya menjadi korban pemanfaatan kaum lelaki dalam meraih impian dan obsesinya, melainkan mampu menjadi mitra yang sejajar dalam upaya mencapai tujuan dan cita-cita. Selain itu, penghargaan yang diberikan oleh laki-laki terhadap pribadi seorang perempuan bukan karena rasa iba atau belas kasihan tetapi karena performa diri yang dipancarkannya dan prestasi kerja yang dicapainya.